Tech Winter di Indonesia: Pelajaran yang Gw Ambil dan Pentingnya Stock-Based Compensation

Tech Winter di Indonesia: Pelajaran yang Gw Ambil dan Pentingnya Stock-Based Compensation

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

4 Mei 2023

Sebagai seorang software engineer yang bekerja di Indonesia, gw udah ngeliat dampak dari tech winter yang berimbas semakin parah di industri sejak awal Q4 tahun lalu (2022). Ini terjadi setelah pandemi Covid mulai menunjukkan perbaikan. Waktu itu, gw baru aja keluar dari RuangGuru dan gabung di GudangAda; tim software engineering gw (warehouse team) kena restrukturisasi, dan lebih dari separuh tim gw harus digabung sama tim lainnya. Akhirnya, gw mengundurkan diri dan pindah kerja di Hijra, perusahaan fintech Islami di Indonesia (4 hari kerja ftw!) setelah gw mastiin kalo semua tim gw bisa pindah ke tim yang baru.

Tapi, pekerjaan baru gw di Hijra ini juga kena dampak tech winter, dimana porsi yang signifikan dari gaji karyawan dikonversi ke ESOP. Sejujurnya gw seneng bisa punya bagian kepemilikan perusahaan (karena tadinya gagal buat nego ESOP), tapi yang bikin berat adalah gw harus segera atur ulang anggaran keuangan gw. Dan buat orang yang Alhamdulillah dikasih kesempatan buat punya tanggung jawab untuk ngehidupin hampir 10 orang , ini bikin gw seneng tapi juga bingung di waktu yang sama.

Dampak tech winter teknologi ini gak cuma ke gw doang. Kata-kata PHK ada di mana-mana tiap minggunya (bisa ikutin instagramnya ecommurz kalo mau liat), dan banyak start-up teknologi yang kena dampak. Gw sedih karena banyak teman dan rekan gw yang terkena dampak, termasuk ex tim gw dulu yang udah susah payah buat gw grow dan temen-temen gw yang gw tau adalah top performer dan jago di software engineering. Tapi, seperti kata pepatah, hidup itu dirancang buat ngasih kita tantangan dan tekanan buat naik ke level berikutnya. So yeah, take it like a champ!

Ketidakdewasaan Kita dalam Melihat dan Bersikap Tentang Start-Up

Dan di masa yang sulit ini, gw sadar kalo banyak software engineer dan pendiri start-up di negara gw yang belum cukup matang dalam melihat start-up. Dari sisi software engineer dan pekerja IT, mereka banyak dimanja sama masa-masa start-up booming 5 tahun kebelakang, di mana gajinya naek terus tiap 6 bulan, dan lowongan kerjaan ada di mana-mana. Udah gitu gak semua punya drive dan urgensi buat secara sadar nambah kemampuan teknis mereka. Manja, gak realistis. Intinya, banyak software engineer yang gak ngerti kenyataan di start-up: hampir semua start-up itu belum untung, alias masih boncos keuangannya.

Kalo kita mau mikir lebih dalam, pada dasarnya start-up ngerekrut kita buat mencapai keuntungan di masa depan: tantangannya besar, waktu yang tersedia cuman singkat, dan taruhannya tinggi (mereka cuman punya sedikit kesempatan buat jadi korporat), jadi mereka merekrut yang siap produktif tanpa butuh banyak pelatihan dari perusahaan. Menurut gw, dengan kondisi seperti itu, gak masuk akal buat kita ngejar work-life balance di start-up. Makanya start-up kasih kita gaji tinggi karena mereka belum untung/stabil dan harus berlari secepat mungkin (coba bandingin gajinya sama pekerja di perusahaan korporat konvensional). Lo harus anggap diri lo beruntung banget kalo lo punya sampe bisa dapet work-life balance kalo kerja di start-up.

Dan kenyataannya, pas gw tulis ini, gak sedikit pendiri perusahaan yang gw rasa terlalu pelit, dan di Indonesia jarang banget ada start-up yang kasih karyawan fungsional inti kompensasi berbasis saham. Gw percaya setiap karyawan fungsi utama yang ada di start-up harus dapet kompensasi berbasis saham karena itu bentuk pembayaran yang adil buat kedua belah pihak. Gw ngerasa kalo sebenernya gaji lembur gak cukup buat go out my way sampe segitunya buat start-up! Gw pernah kerja beberapa tahun di start-up teknologi tanpa kompensasi berbasis saham. Meskipun tempat itu ngasih gw banyak banget pelajaran tentang apa yang harus dan gak boleh dilakukan dalam sofware engineering dan kehidupan, di tahap karir gw sekarang, gw gak akan kerja dengan skema kompensasi itu lagi kalo ada pilihan lain.

Di Amerika, bos gw (Mas Ariya Hidayat) bilang kalo lo kerja di start-up, biasanya lo bakal dapet kompensasi berbasis saham (entah itu ESOP, reserve stock, atau lainnya). Bahkan ada batas buat bagian tunai dari kompensasi. Sistem ini sengaja dibikin buat ngehindarin nyewa tentara bayaran yang cuma pengen duit, bukan visi. Walaupun gapapa di dunia korporat, kerja di start-up butuh semangat yang cukup buat ngedorong visi perusahaan, dan itu lebih dari masalah duit. Atau setidaknya itu yang dibilang sama Y Combinator.

Menurut gw, kompensasi berbasis saham itu adalah salah satu hal yang bikin kerja di start-up jadi layak untuk dipertimbangkan. Malah, di perusahaan teknologi besar di US sana, gw denger kalo bagian tunai dari kompensasi level awal dan senior gak beda jauh, tapi kompensasi berbasis saham beda jauh (salah satu datanya bisa diliat di sini: https://www.levels.fyi/companies/google/salaries/software-engineer). Dan gak sedikit cerita tentang karyawan awal start-up yang ngikutin start-up sampe exit/IPO dan jadi makmur secara finansial, meski sisi lain dari koin juga ada.

Kompensasi Berbasis Saham dan 3 Fase Software Engineering di Start-Up

Tapi cukup dulu ngeluhnya, sekarang kita bahas manfaat pake kompensasi berbasis saham. Menurut gw, ada tiga fase start-up teknologi yang butuh jenis software engineer yang berbeda sebagai mesinnya: bootstrap, scale, dan world scale. Kepemilikan adalah salah satu manfaat utama, tapi apa lagi? Kemudahan yang dibutuhkan buat restruktur tim.

Kita gak tahu apakah ide kita bakal berhasil di fase bootstrap. Di fase ini, kita harus deliver! Dengan cepat! Yang perlu dikejar cuman 3: deliver, deliver, dan deliver! Arsitektur perangkat lunak gak terlalu penting di sini. Biasanya kita cuma punya beberapa software engineer di perusahaan. Gak apa-apa bikin hal yang gak scalable. Semua software engineer harus mengutamakan pengiriman daripada hal lain. Lihat video YouTube ini dari Y Combinator buat referensi lebih lanjut: https://youtu.be/TCPjk8Tpb5c.

Di fase berikutnya (scale), kita udah tau ide kita bakal berhasil (data dari pasar udah masuk, bukan angan-angan doang), dan kita punya beberapa derajat product-market fit, tapi nilai ekonominya mungkin belum ada. Jadi, kita perlu nge-scale layanan kita buat mencapai dan tumbuh. Di fase ini, arsitektur software kita mulai penting, dan karena sikap pengiriman yang diperlukan di tahap sebelumnya, kemungkinan akan ada banyak tech-debt yang harus kita solve sambil jalan.

Di titik ini, sebagian besar software engineer harus sadar kalo mereka perlu nge-scale praktek, karena bikin hal yang gak scalable mulai bikin sakit dan ngurangin kecepatan delivery, dan itu bakal bikin lambat bisnis kalo gak ditangani dengan bener. Ini kayak ganti ban kendaraan tanpa masuk pitstop, dan emang seheboh itu! Intinya, fokus engineering di fase ini adalah cara nge-scale layanan kita (produktivitas dan kinerja) sambil tetap memberikan dampak bisnis.

Selanjutnya adalah world-scale, di mana Google, Amazon, Microsoft, atau perusahaan teknologi besar lainnya beroperasi. Cuma beberapa perusahaan yang bekerja di skala ini; di titik ini, perusahaan udah “menguntungkan” atau terlalu besar buat gagal. Perusahaan biasanya bisa bertahan 5+ tahun dalam kondisi tech winter (tanpa pendapatan).

Sejujurnya sampe detik ini gw cuman bisa baca tentang praktek engineering yang sifatnya world-scale ini di buku-buku, artikel-artikel, talk-talk yang ada di internet. tapi gw yakin kalo domainnya di sana udah begitu kompleks sampai-sampai diperlukan banyak level di atas principal software engineer dan juga banyak spesialis. Makanya perusahaan teknologi besar di seluruh dunia punya proses perekrutan dan peran engineer yang tersendiri.

Kompensasi Berbasis Saham dan Restrukturisasi Start-Up

Jadi gimana? Inget kalo gw bilang setiap fase butuh jenis software engineer yang berbeda? Mari kita realistis! Gak semua orang punya kemampuan buat beradaptasi ke level selanjutnya. Iya, manajer harus berusaha buat level up karyawan dari fase sebelumnya, tapi kalo lo udah sedikit lama di dunia teknologi, lo pasti tau kalo sebagian besar gak bakal bisa.

Pelajaran dari “First break all the Rules” oleh Gallup organization, orang gak akan berubah banyak, dan gw setuju. Kompensasi berbasis saham bakal bikin perusahaan dan karyawan yang harus di-“restruktur” merasa lebih mudah dan adil. Gak bakal ada kompetisi teriak-teriak tentang pemutusan karena mereka tau fase berbeda itu bukan milik mereka, dan gak apa-apa. Warisan mereka (secara finansial) bakal tetap ada buat mereka. Dan kita bisa berpisah dengan itikad baik, tahu kalo mereka dapet kompensasi yang adil.

Karyawan harus dapet kompensasi berbasis saham karena bentuk lain gak bakal kasih manfaat ini. Kompensasi berbasis saham itu tentang kepemilikan dan memotivasi karyawan buat tetap kerja keras demi mencapai tujuan perusahaan. Ini juga memastikan perusahaan dan karyawan sejalan dengan kepentingan dan tujuan masing-masing. Ini membantu memudahkan proses restrukturisasi tim dan memastikan karyawan dihargai secara adil atas kontribusi mereka.

Selain itu, industri teknologi selalu berkembang, dan fase start-up yang berbeda memerlukan jenis software engineer yang berbeda. Dan perlu gw tekanin di sini kalo gak ada yang salah buat jadi orang atau software engineer yang fokus di satu tahapan perusahaan teknologi. Kompensasi berbasis saham memastikan karyawan punya insentif buat menetap dan mengembangkan perusahaan karena itulah jati diri mereka, bukan cuma karena uang. Dan instentif itu akan tetap mereka dapatkan manfaatnya walaupun mereka sudah ada di luar perusahaan. Ini juga memastikan karyawan dihargai secara adil atas pekerjaan mereka dan punya bagian dalam kesuksesan perusahaan, yang semakin penting dalam ketidakpastian tech winter.

Kesimpulan

Akhir kata, tech winter ini walaupun udah bikin gw puyeng gak karuan karena ngasih banyak tekanan ke gw dan banyak orang di sekeliling gw, tapi dia juga udah ngasih gw pelajaran yang sangat berharga buat gimana caranya ngeliat kehidupan kerja secara lebih seimbang dan berusaha ngeliat dari kedua sisi (gak cuman dari sisi gw sebagai sofware engineer dan pekerja doang). Dan pelajaran ini sangat penting buat gw yang punya latar belakang hidup di salah satu negara yang sangat strict terhadap jam kerja selama bertahun-tahun (Jerman) bahwa ada harga yang memang harus dibayar ketika kita masuk ke jenis perusahaan yang berbeda, dan juga gimana baiknya kita menstruktur kompensasi pekerja kita ketika taruhannya besar. Di mana dalam hal ini, gw ngeliat kompensasi berbasis saham itu adalah salah satu yang paling adil buat semua, dan walaupun ini belum tentu diterapkan di mayoritas perusahaan yang ada di perusahaan yang ada di negara gw tercinta, seenggaknya ini akan jadi hal yang akan serius gw pertimbangkan ketika suatu saat nanti gw punya kendali yang lebih besar di perusahaan, atau punya perusahaan gw sendiri.

Baca artikel detikhikmah, “Tulisan Arab Bismillahirrahmanirrahim Beserta Arti dan Keutamaan” selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6665987/tulisan-arab-bismillahirrahmanirrahim-beserta-arti-dan-keutamaan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Last updated on